Breaking News
light_mode

Golkar dan Amanah yang Belum Tuntas: Suara Pemuda dari Ujung Timur Madura

  • account_circle Ach Firdaus Asyik
  • calendar_month Sab, 5 Sep 2026
  • visibility 176
  • comment 0 komentar

OPINI, (JARAK.co) – Sebuah bangsa tidak dibangun hanya oleh mereka yang hidup pada hari ini. Setiap generasi menerima warisan dari generasi sebelumnya, lalu memiliki kewajiban untuk menjaganya, memperbaikinya, dan meneruskannya kepada generasi berikutnya.

Begitu pula dengan politik.

Partai politik bukan sekadar lambang, struktur organisasi, atau kendaraan menuju kekuasaan. Di dalamnya ada gagasan, sejarah, kader, tanggung jawab, dan amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.

Di antara perjalanan panjang politik Indonesia, Partai Golkar merupakan salah satu kekuatan politik yang memiliki sejarah panjang. Ia telah melewati berbagai perubahan zaman, dinamika politik, pergantian generasi, hingga perubahan cara masyarakat memandang partai politik.

Namun, sejarah panjang saja tidak cukup.

Sebuah partai akan tetap relevan apabila mampu menjawab tantangan zamannya. Dan salah satu tantangan terbesar yang tidak bisa dihindari adalah regenerasi.

Sebab, tidak ada organisasi yang dapat bertahan selamanya jika hanya mengandalkan generasi yang sama.

Pemuda Bukan Sekadar Pelengkap

Pemuda sering disebut sebagai harapan bangsa. Ungkapan itu begitu sering terdengar hingga terkadang kehilangan makna. Padahal, menempatkan pemuda sebagai harapan bukan sekadar memberikan pujian, melainkan memberikan kepercayaan sekaligus tanggung jawab.

Pemuda harus dipersiapkan untuk menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan, bukan hanya menjadi pelaksana keputusan.

Dalam konteks partai politik, pemuda tidak seharusnya ditempatkan sebatas sebagai penggerak kegiatan, pengumpul massa, atau pelengkap struktur organisasi. Mereka harus diberi kesempatan untuk belajar, berdiskusi, menyampaikan kritik, mengembangkan gagasan, dan pada saatnya mengambil tanggung jawab kepemimpinan.

Di sinilah kaderisasi menjadi penting.

Kaderisasi bukan sekadar proses memperbanyak anggota. Kaderisasi adalah proses membentuk manusia agar memahami nilai perjuangan, memiliki kapasitas, mengerti persoalan masyarakat, serta mampu mempertanggungjawabkan setiap keputusan yang diambil.

Partai Golkar memiliki modal sejarah dan pengalaman politik yang panjang. Modal tersebut seharusnya menjadi kekuatan untuk membentuk generasi baru yang mampu meneruskan perjuangan dengan pendekatan yang sesuai dengan tantangan zaman.

Pemuda tidak membutuhkan ruang yang diberikan karena belas kasihan. Pemuda membutuhkan kesempatan yang setara untuk membuktikan kemampuan.

Pengalaman dan Energi Muda Harus Bertemu

Regenerasi tidak berarti menyingkirkan generasi sebelumnya.

Sebaliknya, regenerasi harus menjadi jembatan antara pengalaman dan pembaruan.

Generasi senior memiliki pengalaman panjang, pengetahuan tentang perjalanan organisasi, serta pelajaran dari berbagai dinamika politik yang pernah dilalui. Sementara generasi muda membawa energi, keberanian, kreativitas, dan perspektif baru yang dibutuhkan untuk menghadapi perubahan.

Keduanya tidak perlu dipertentangkan.

Pengalaman tanpa regenerasi berisiko melahirkan stagnasi. Sebaliknya, energi muda tanpa pengalaman dapat kehilangan arah.

Karena itu, hubungan antargenerasi harus dibangun dalam semangat saling melengkapi.

Yang lebih tua tidak hanya menjadi pengarah, tetapi juga mentor. Yang muda tidak hanya menjadi penerus, tetapi juga mitra dalam membangun gagasan.

Dalam hubungan semacam itu, partai tidak sekadar mempertahankan struktur, tetapi membangun kesinambungan.

Politik Harus Kembali kepada Kepentingan Rakyat

Ada kecenderungan sebagian masyarakat memandang politik sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Politik dianggap hanya berkaitan dengan pemilu, jabatan, partai, atau perebutan kekuasaan.

Padahal, politik hadir dalam hampir setiap aspek kehidupan masyarakat.

Ketika seorang petani kesulitan memperoleh air untuk lahannya, ada kebijakan politik di sana. Ketika nelayan menghadapi keterbatasan sarana dan akses pasar, ada kebijakan yang menentukan nasib mereka. Ketika anak-anak di pelosok membutuhkan pendidikan yang layak, politik juga memiliki peran.

Karena itu, pemuda yang masuk ke dunia politik harus memahami bahwa kekuasaan bukan tujuan akhir.

Kekuasaan hanyalah instrumen.

Tujuan akhirnya adalah memastikan masyarakat mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Politik harus menjadi jalan untuk memperjuangkan kepentingan publik, bukan sekadar sarana untuk memperbesar pengaruh pribadi maupun kelompok.

Di sinilah kualitas kader diuji.

Seorang kader tidak cukup hanya pandai berbicara. Ia harus mampu mendengar. Tidak cukup memahami teori politik, tetapi juga harus memahami persoalan masyarakat. Tidak cukup memiliki ambisi menjadi pemimpin, tetapi harus memiliki kesiapan untuk memikul tanggung jawab.

Madura dan Suara dari Ujung Timur

Madura memiliki karakter yang kuat. Masyarakatnya dikenal memiliki keteguhan, keberanian, semangat bekerja, serta ikatan sosial dan kultural yang erat.

Namun di balik karakter tersebut, masih terdapat berbagai persoalan yang membutuhkan perhatian serius.

Kesenjangan pembangunan, akses pendidikan, keterbatasan infrastruktur, persoalan air, penguatan ekonomi masyarakat, hingga kesejahteraan nelayan dan petani merupakan bagian dari pekerjaan rumah yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan slogan.

Madura memiliki sumber daya alam dan manusia yang besar. Laut yang luas, lahan pertanian, potensi pariwisata, budaya, serta generasi muda yang terus berkembang merupakan modal penting bagi masa depan.

Yang dibutuhkan adalah kebijakan yang mampu mengubah potensi tersebut menjadi kesejahteraan nyata.

Karena itu, suara politik dari Madura tidak boleh hanya terdengar ketika pemilu tiba.

Suara masyarakat harus hadir dalam proses perencanaan pembangunan, pengambilan kebijakan, dan pengawasan terhadap jalannya pemerintahan.

Sumenep dan Tantangan Generasi Muda

Di ujung timur Madura, Sumenep memiliki karakter yang tidak kalah kuat.

Kabupaten ini memiliki sejarah panjang, kekayaan budaya, wilayah kepulauan yang luas, potensi kelautan, pertanian, pariwisata, serta masyarakat yang hidup dalam keberagaman.

Namun potensi tersebut juga menghadirkan tantangan.

Wilayah kepulauan membutuhkan konektivitas dan pelayanan publik yang tidak sederhana. Nelayan membutuhkan dukungan agar hasil laut memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi. Petani membutuhkan akses terhadap air, teknologi, dan pasar. Anak-anak muda membutuhkan pendidikan, keterampilan, lapangan kerja, serta ruang untuk mengembangkan kreativitas.

Persoalan-persoalan itu tidak bisa hanya dibicarakan dari ruang rapat.

Harus ada generasi yang mau turun melihat, mendengar, dan memahami persoalan masyarakat secara langsung.

Di sinilah pemuda memiliki posisi penting.

Pemuda Sumenep tidak boleh hanya menjadi penonton pembangunan di daerahnya sendiri.

Mereka harus menjadi bagian dari proses tersebut.

Mereka harus memiliki keberanian untuk menyampaikan gagasan, mengkritisi kebijakan yang tidak berpihak kepada masyarakat, sekaligus menawarkan solusi yang konstruktif.

Golkar dan Tanggung Jawab Regenerasi

Bagi Partai Golkar, tantangan regenerasi bukan sekadar persoalan organisasi. Ini adalah bagian dari tanggung jawab sejarah.

Partai dengan perjalanan panjang tentu memiliki kewajiban untuk menyiapkan generasi yang mampu melanjutkan estafet perjuangan.

Di sinilah Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) memiliki posisi strategis.

AMPG tidak seharusnya hanya dipahami sebagai organisasi kepemudaan yang berada di sekitar partai. Lebih dari itu, AMPG harus menjadi ruang pendidikan politik, ruang kaderisasi, ruang pengembangan kapasitas, sekaligus tempat lahirnya calon-calon pemimpin masa depan.

Pemuda yang bergabung di dalamnya harus dibentuk menjadi kader yang memiliki kemampuan sekaligus karakter.

Mereka harus memahami politik, tetapi tidak kehilangan idealisme. Mereka harus mampu berkompetisi, tetapi tidak menghalalkan segala cara. Mereka harus memiliki cita-cita politik, tetapi tidak melupakan kepentingan masyarakat.

AMPG harus mampu melahirkan kader yang tidak hanya siap menghadapi kontestasi politik, tetapi juga siap memimpin ketika kepercayaan masyarakat telah diberikan.

Karena pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan politisi yang pandai mendapatkan suara.

Masyarakat membutuhkan pemimpin yang mampu menjaga kepercayaan.

Amanah yang Belum Tuntas

Di titik inilah judul tulisan ini menemukan maknanya.

Amanah politik tidak pernah benar-benar selesai.

Setiap generasi menerima amanah dari generasi sebelumnya dan memiliki kewajiban untuk meneruskannya.

Bagi Golkar, amanah itu bukan hanya mempertahankan eksistensi organisasi. Amanah yang lebih besar adalah memastikan bahwa partai tetap memiliki relevansi bagi masyarakat dan mampu melahirkan kader yang berkualitas.

Sementara bagi pemuda, amanah itu adalah mempersiapkan diri.

Tidak ada gunanya menuntut ruang jika tidak dibarengi dengan kapasitas. Tidak cukup meminta kepercayaan jika belum siap mempertanggungjawabkannya.

Karena itu, pemuda juga harus berani mengoreksi dirinya sendiri.

Apakah kita sudah cukup membaca persoalan masyarakat?

Apakah kita sudah cukup memahami politik?

Apakah kita sudah memiliki keberanian untuk menyampaikan kebenaran?

Apakah kita siap menerima kritik?

Dan yang paling penting, apakah kita siap menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi?

Pertanyaan-pertanyaan itu harus menjadi bagian dari proses kaderisasi.

Dari Sumenep untuk Masa Depan

Sumenep membutuhkan generasi muda yang tidak hanya memiliki mimpi tentang jabatan, tetapi memiliki gagasan tentang masa depan daerah.

Pemuda harus mampu membayangkan Sumenep yang lebih terkoneksi, pendidikan yang semakin terbuka, ekonomi masyarakat yang semakin kuat, nelayan dan petani yang lebih sejahtera, serta sumber daya alam yang dikelola secara berkelanjutan.

Untuk mewujudkan itu semua, dibutuhkan kerja politik yang serius.

Partai politik harus membuka ruang. Pemuda harus meningkatkan kapasitas. Pemerintah harus menjalankan kebijakan secara bertanggung jawab. Masyarakat harus terlibat dalam pengawasan.

Tidak ada satu pihak yang dapat bekerja sendirian.

Di sinilah Golkar, khususnya melalui AMPG, memiliki kesempatan untuk membuktikan bahwa regenerasi bukan sekadar jargon.

Ruang harus dibuka.

Kepercayaan harus diberikan.

Kader harus dipersiapkan.

Dan setelah itu, mereka harus diberi kesempatan untuk membuktikan kemampuannya.

Jika proses tersebut berjalan, maka regenerasi tidak akan menjadi ancaman bagi generasi sebelumnya. Regenerasi justru menjadi jaminan bahwa perjuangan tidak berhenti ketika sebuah generasi meninggalkan panggung.

Politik yang Mewariskan Harapan

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah partai bukan hanya berapa banyak kursi yang berhasil diperoleh atau seberapa besar kekuasaan yang pernah diraih.

Ada ukuran yang jauh lebih penting: apa yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Jika sebuah partai mampu meninggalkan kader-kader yang berintegritas, berkapasitas, dan memiliki keberpihakan kepada masyarakat, maka sesungguhnya partai tersebut telah menjalankan bagian penting dari amanah sejarahnya.

Sebaliknya, jika regenerasi hanya menjadi slogan tanpa ruang yang nyata, maka sejarah panjang dapat berubah menjadi sekadar catatan masa lalu.

Karena itu, Golkar harus terus bergerak.

Bukan meninggalkan sejarah, tetapi belajar dari sejarah.

Bukan menutup pintu bagi generasi baru, tetapi membuka ruang seluas-luasnya bagi mereka yang memiliki kapasitas dan kemauan untuk berjuang.

Dan bagi pemuda Sumenep, kesempatan itu harus dijawab dengan kerja keras, integritas, keberanian, serta kesediaan untuk terus belajar.

Sebab masa depan tidak pernah datang dengan sendirinya.

Masa depan dipersiapkan.

Hari ini.

Di ruang-ruang kaderisasi. Di tengah masyarakat. Di dalam organisasi. Di dalam keberanian untuk menyampaikan gagasan. Dan terutama, di dalam kesediaan untuk mengubah politik dari sekadar perebutan kekuasaan menjadi jalan pengabdian.

Dari ujung timur Madura, suara itu harus terus disuarakan.

Bahwa pemuda tidak meminta karpet merah.

Pemuda hanya meminta kesempatan untuk belajar, dipercaya, bekerja, dan pada waktunya memimpin.

Sebab amanah terbesar sebuah generasi bukanlah mempertahankan seluruh yang telah dimilikinya, melainkan memastikan generasi setelahnya memiliki ruang untuk membangun sesuatu yang lebih baik.

Itulah amanah yang belum tuntas.

Dan itulah tugas yang harus mulai dikerjakan hari ini.*

 

*Ditulis untuk memenuhi salah satu persyaratan mengikuti kegiatan DIKLATDA AMPG Provinsi Jawa Timur.

  • Penulis: Ach Firdaus Asyik
  • Editor: En

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ketua DPC PWRI Sumenep, Rusydiyono saat menyerahkan donasi untuk para korban gempa di Pulau Sapudi yang diterima langsung Kepala Diskominfo Sumenep, Indra Wahyudi.

    Ketika Wartawan Turun Tangan: PWRI Sumenep Ulurkan Kepedulian untuk Korban Gempa Sapudi

    • calendar_month Kam, 23 Okt 2025
    • account_circle En A
    • visibility 359
    • 0Komentar

    SUMENEP, (JARAK.co) – Suasana hangat menyelimuti ruang Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Sumenep pada Kamis pagi (23/10/2025). Di tengah aktivitas kantor yang biasanya sibuk dengan urusan informasi publik, hari itu ada momen berbeda, sekelompok jurnalis datang bukan untuk meliput berita, melainkan membawa kepedulian. Mereka adalah pengurus DPC Persatuan Wartawan Republik Indonesia (PWRI) Sumenep. Dengan wajah […]

  • Rapat Kerja (Raker) Dewan Pengurus Cabang (DPC) Persatuan Wartawan Republik Indonesia (PWRI).

    PWRI Sumenep Mantapkan Transformasi Organisasi, Fokus Kawal Isu Kemanusiaan dan Olahraga 2026

    • calendar_month Sab, 22 Nov 2025
    • account_circle En A
    • visibility 370
    • 0Komentar

    SUMENEP, (JARAK.co) – Dewan Pengurus Cabang (DPC) Persatuan Wartawan Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten Sumenep menggelar Rapat Kerja (Raker) di Grand Whiz Hotel pada 21-23 November 2025. Agenda tahunan ini mengusung tema “Transformasi Organisasi untuk Profesionalisme dan Kemandirian PWRI Sumenep.” Tema tersebut menegaskan tekad PWRI untuk memperkuat tata kelola organisasi, meningkatkan kapasitas wartawan, sekaligus memperluas jejaring […]

  • Ketua PWI Sumenep, Faisal Warid, saat menyerahkan piagam penghargaan kepada perwakilan SKK Migas–Kangean Energy Indonesia Ltd. (KEI), dalam kategori kepedulian terhadap lingkungan serta menjunjung keterbukaan informasi publik.

    Operasi Migas dan Kelestarian Lingkungan, KEI Raih Apresiasi di HUT ke-80 PWI

    • calendar_month Kam, 12 Feb 2026
    • account_circle En A
    • visibility 296
    • 0Komentar

    SUMENEP, (JARAK.co) – Isu keberlanjutan lingkungan dalam industri migas kembali menjadi sorotan pada puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 dan HUT ke-80 Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang digelar di Universitas Bahauddin Mudhary (UNIBA) Madura, Senin (09/02/2026). Dalam momentum tersebut, SKK Migas–Kangean Energy Indonesia Ltd. (KEI) menerima penghargaan dari PWI Sumenep pada kategori Kontraktor Kontrak […]

  • Tersangka Penipuan Modal Usaha Rp200 Juta Ditangkap. (Istimewa for Jarak.co)

    Sempat Jadi DPO, Tersangka Penipuan Modal Rp200 Juta Ditangkap Polresta Sumenep

    • calendar_month Sen, 5 Okt 2026
    • account_circle En
    • visibility 34
    • 0Komentar

    SUMENEP, (JARAK.co) – Satreskrim Polresta Sumenep menangkap MF (35), warga Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep, yang menjadi tersangka kasus dugaan penipuan dan/atau penggelapan dengan kerugian korban mencapai Rp200 juta. MF sebelumnya masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) setelah tidak hadir saat akan menjalani pelimpahan tersangka dan barang bukti atau tahap II kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU). […]

  • Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat kunjungan kerja di kawasan Pantai Slopeng. (Istimewa)

    Khofifah Salurkan Bantuan Kesehatan hingga Ekonomi untuk Warga Sumenep

    • calendar_month Rab, 14 Okt 2026
    • account_circle En
    • visibility 33
    • 0Komentar

    SUMENEP, (JARAK.co) – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menghadirkan berbagai program pelayanan publik dan bantuan sosial bagi masyarakat Kabupaten Sumenep. Program tersebut menyasar sektor kesehatan, ekonomi, pertanian, perikanan, hingga pendidikan dalam kunjungan kerjanya di kawasan Pantai Slopeng, Rabu (14/10/2026). Sejumlah program yang dibawa meliputi khitanan massal, pemeriksaan kesehatan gratis, bantuan produktif bagi pelaku usaha […]

  • Calon Ketua Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur, Maksudi

    Begini Gagasan Transformasi PMII Jatim ala Maksudi

    • calendar_month Jum, 30 Mei 2025
    • account_circle JARAK.co
    • visibility 480
    • 0Komentar

      SUMENEP, (JARAK.co) – Calon Ketua Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur, Maksudi, menawarkan gagasan baru untuk arah gerakan PMII: Equilibrium Sosial-Inklusif. Gagasan ini lahir dari keprihatinannya terhadap menguatnya polarisasi sosial, rendahnya literasi digital, serta lemahnya integrasi antara keislaman, keindonesiaan, dan keilmuan di tubuh PMII. Konsep tersebut menggabungkan teori ekonomi […]

expand_less