Golkar dan Amanah yang Belum Tuntas: Suara Pemuda dari Ujung Timur Madura
- account_circle Ach Firdaus Asyik
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 41
- comment 0 komentar

Ketua PD AMPG DPD Partai Golkar Sumenep, Ach Firdaus Asyik.
OPINI, (JARAK.co) – Sebuah bangsa tidak dibangun hanya oleh mereka yang hidup pada hari ini. Setiap generasi menerima warisan dari generasi sebelumnya, lalu memiliki kewajiban untuk menjaganya, memperbaikinya, dan meneruskannya kepada generasi berikutnya.
Begitu pula dengan politik.
Partai politik bukan sekadar lambang, struktur organisasi, atau kendaraan menuju kekuasaan. Di dalamnya ada gagasan, sejarah, kader, tanggung jawab, dan amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
Di antara perjalanan panjang politik Indonesia, Partai Golkar merupakan salah satu kekuatan politik yang memiliki sejarah panjang. Ia telah melewati berbagai perubahan zaman, dinamika politik, pergantian generasi, hingga perubahan cara masyarakat memandang partai politik.
Namun, sejarah panjang saja tidak cukup.
Sebuah partai akan tetap relevan apabila mampu menjawab tantangan zamannya. Dan salah satu tantangan terbesar yang tidak bisa dihindari adalah regenerasi.
Sebab, tidak ada organisasi yang dapat bertahan selamanya jika hanya mengandalkan generasi yang sama.
Pemuda Bukan Sekadar Pelengkap
Pemuda sering disebut sebagai harapan bangsa. Ungkapan itu begitu sering terdengar hingga terkadang kehilangan makna. Padahal, menempatkan pemuda sebagai harapan bukan sekadar memberikan pujian, melainkan memberikan kepercayaan sekaligus tanggung jawab.
Pemuda harus dipersiapkan untuk menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan, bukan hanya menjadi pelaksana keputusan.
Dalam konteks partai politik, pemuda tidak seharusnya ditempatkan sebatas sebagai penggerak kegiatan, pengumpul massa, atau pelengkap struktur organisasi. Mereka harus diberi kesempatan untuk belajar, berdiskusi, menyampaikan kritik, mengembangkan gagasan, dan pada saatnya mengambil tanggung jawab kepemimpinan.
Di sinilah kaderisasi menjadi penting.
Kaderisasi bukan sekadar proses memperbanyak anggota. Kaderisasi adalah proses membentuk manusia agar memahami nilai perjuangan, memiliki kapasitas, mengerti persoalan masyarakat, serta mampu mempertanggungjawabkan setiap keputusan yang diambil.
Partai Golkar memiliki modal sejarah dan pengalaman politik yang panjang. Modal tersebut seharusnya menjadi kekuatan untuk membentuk generasi baru yang mampu meneruskan perjuangan dengan pendekatan yang sesuai dengan tantangan zaman.
Pemuda tidak membutuhkan ruang yang diberikan karena belas kasihan. Pemuda membutuhkan kesempatan yang setara untuk membuktikan kemampuan.
Pengalaman dan Energi Muda Harus Bertemu
Regenerasi tidak berarti menyingkirkan generasi sebelumnya.
Sebaliknya, regenerasi harus menjadi jembatan antara pengalaman dan pembaruan.
Generasi senior memiliki pengalaman panjang, pengetahuan tentang perjalanan organisasi, serta pelajaran dari berbagai dinamika politik yang pernah dilalui. Sementara generasi muda membawa energi, keberanian, kreativitas, dan perspektif baru yang dibutuhkan untuk menghadapi perubahan.
Keduanya tidak perlu dipertentangkan.
Pengalaman tanpa regenerasi berisiko melahirkan stagnasi. Sebaliknya, energi muda tanpa pengalaman dapat kehilangan arah.
Karena itu, hubungan antargenerasi harus dibangun dalam semangat saling melengkapi.
Yang lebih tua tidak hanya menjadi pengarah, tetapi juga mentor. Yang muda tidak hanya menjadi penerus, tetapi juga mitra dalam membangun gagasan.
Dalam hubungan semacam itu, partai tidak sekadar mempertahankan struktur, tetapi membangun kesinambungan.
Politik Harus Kembali kepada Kepentingan Rakyat
Ada kecenderungan sebagian masyarakat memandang politik sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Politik dianggap hanya berkaitan dengan pemilu, jabatan, partai, atau perebutan kekuasaan.
Padahal, politik hadir dalam hampir setiap aspek kehidupan masyarakat.
Ketika seorang petani kesulitan memperoleh air untuk lahannya, ada kebijakan politik di sana. Ketika nelayan menghadapi keterbatasan sarana dan akses pasar, ada kebijakan yang menentukan nasib mereka. Ketika anak-anak di pelosok membutuhkan pendidikan yang layak, politik juga memiliki peran.
Karena itu, pemuda yang masuk ke dunia politik harus memahami bahwa kekuasaan bukan tujuan akhir.
Kekuasaan hanyalah instrumen.
Tujuan akhirnya adalah memastikan masyarakat mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Politik harus menjadi jalan untuk memperjuangkan kepentingan publik, bukan sekadar sarana untuk memperbesar pengaruh pribadi maupun kelompok.
Di sinilah kualitas kader diuji.
Seorang kader tidak cukup hanya pandai berbicara. Ia harus mampu mendengar. Tidak cukup memahami teori politik, tetapi juga harus memahami persoalan masyarakat. Tidak cukup memiliki ambisi menjadi pemimpin, tetapi harus memiliki kesiapan untuk memikul tanggung jawab.
Madura dan Suara dari Ujung Timur
Madura memiliki karakter yang kuat. Masyarakatnya dikenal memiliki keteguhan, keberanian, semangat bekerja, serta ikatan sosial dan kultural yang erat.
Namun di balik karakter tersebut, masih terdapat berbagai persoalan yang membutuhkan perhatian serius.
Kesenjangan pembangunan, akses pendidikan, keterbatasan infrastruktur, persoalan air, penguatan ekonomi masyarakat, hingga kesejahteraan nelayan dan petani merupakan bagian dari pekerjaan rumah yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan slogan.
Madura memiliki sumber daya alam dan manusia yang besar. Laut yang luas, lahan pertanian, potensi pariwisata, budaya, serta generasi muda yang terus berkembang merupakan modal penting bagi masa depan.
Yang dibutuhkan adalah kebijakan yang mampu mengubah potensi tersebut menjadi kesejahteraan nyata.
Karena itu, suara politik dari Madura tidak boleh hanya terdengar ketika pemilu tiba.
Suara masyarakat harus hadir dalam proses perencanaan pembangunan, pengambilan kebijakan, dan pengawasan terhadap jalannya pemerintahan.
Sumenep dan Tantangan Generasi Muda
Di ujung timur Madura, Sumenep memiliki karakter yang tidak kalah kuat.
Kabupaten ini memiliki sejarah panjang, kekayaan budaya, wilayah kepulauan yang luas, potensi kelautan, pertanian, pariwisata, serta masyarakat yang hidup dalam keberagaman.
Namun potensi tersebut juga menghadirkan tantangan.
Wilayah kepulauan membutuhkan konektivitas dan pelayanan publik yang tidak sederhana. Nelayan membutuhkan dukungan agar hasil laut memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi. Petani membutuhkan akses terhadap air, teknologi, dan pasar. Anak-anak muda membutuhkan pendidikan, keterampilan, lapangan kerja, serta ruang untuk mengembangkan kreativitas.
Persoalan-persoalan itu tidak bisa hanya dibicarakan dari ruang rapat.
Harus ada generasi yang mau turun melihat, mendengar, dan memahami persoalan masyarakat secara langsung.
Di sinilah pemuda memiliki posisi penting.
Pemuda Sumenep tidak boleh hanya menjadi penonton pembangunan di daerahnya sendiri.
Mereka harus menjadi bagian dari proses tersebut.
Mereka harus memiliki keberanian untuk menyampaikan gagasan, mengkritisi kebijakan yang tidak berpihak kepada masyarakat, sekaligus menawarkan solusi yang konstruktif.
Golkar dan Tanggung Jawab Regenerasi
Bagi Partai Golkar, tantangan regenerasi bukan sekadar persoalan organisasi. Ini adalah bagian dari tanggung jawab sejarah.
Partai dengan perjalanan panjang tentu memiliki kewajiban untuk menyiapkan generasi yang mampu melanjutkan estafet perjuangan.
Di sinilah Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) memiliki posisi strategis.
AMPG tidak seharusnya hanya dipahami sebagai organisasi kepemudaan yang berada di sekitar partai. Lebih dari itu, AMPG harus menjadi ruang pendidikan politik, ruang kaderisasi, ruang pengembangan kapasitas, sekaligus tempat lahirnya calon-calon pemimpin masa depan.
Pemuda yang bergabung di dalamnya harus dibentuk menjadi kader yang memiliki kemampuan sekaligus karakter.
Mereka harus memahami politik, tetapi tidak kehilangan idealisme. Mereka harus mampu berkompetisi, tetapi tidak menghalalkan segala cara. Mereka harus memiliki cita-cita politik, tetapi tidak melupakan kepentingan masyarakat.
AMPG harus mampu melahirkan kader yang tidak hanya siap menghadapi kontestasi politik, tetapi juga siap memimpin ketika kepercayaan masyarakat telah diberikan.
Karena pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan politisi yang pandai mendapatkan suara.
Masyarakat membutuhkan pemimpin yang mampu menjaga kepercayaan.
Amanah yang Belum Tuntas
Di titik inilah judul tulisan ini menemukan maknanya.
Amanah politik tidak pernah benar-benar selesai.
Setiap generasi menerima amanah dari generasi sebelumnya dan memiliki kewajiban untuk meneruskannya.
Bagi Golkar, amanah itu bukan hanya mempertahankan eksistensi organisasi. Amanah yang lebih besar adalah memastikan bahwa partai tetap memiliki relevansi bagi masyarakat dan mampu melahirkan kader yang berkualitas.
Sementara bagi pemuda, amanah itu adalah mempersiapkan diri.
Tidak ada gunanya menuntut ruang jika tidak dibarengi dengan kapasitas. Tidak cukup meminta kepercayaan jika belum siap mempertanggungjawabkannya.
Karena itu, pemuda juga harus berani mengoreksi dirinya sendiri.
Apakah kita sudah cukup membaca persoalan masyarakat?
Apakah kita sudah cukup memahami politik?
Apakah kita sudah memiliki keberanian untuk menyampaikan kebenaran?
Apakah kita siap menerima kritik?
Dan yang paling penting, apakah kita siap menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi?
Pertanyaan-pertanyaan itu harus menjadi bagian dari proses kaderisasi.
Dari Sumenep untuk Masa Depan
Sumenep membutuhkan generasi muda yang tidak hanya memiliki mimpi tentang jabatan, tetapi memiliki gagasan tentang masa depan daerah.
Pemuda harus mampu membayangkan Sumenep yang lebih terkoneksi, pendidikan yang semakin terbuka, ekonomi masyarakat yang semakin kuat, nelayan dan petani yang lebih sejahtera, serta sumber daya alam yang dikelola secara berkelanjutan.
Untuk mewujudkan itu semua, dibutuhkan kerja politik yang serius.
Partai politik harus membuka ruang. Pemuda harus meningkatkan kapasitas. Pemerintah harus menjalankan kebijakan secara bertanggung jawab. Masyarakat harus terlibat dalam pengawasan.
Tidak ada satu pihak yang dapat bekerja sendirian.
Di sinilah Golkar, khususnya melalui AMPG, memiliki kesempatan untuk membuktikan bahwa regenerasi bukan sekadar jargon.
Ruang harus dibuka.
Kepercayaan harus diberikan.
Kader harus dipersiapkan.
Dan setelah itu, mereka harus diberi kesempatan untuk membuktikan kemampuannya.
Jika proses tersebut berjalan, maka regenerasi tidak akan menjadi ancaman bagi generasi sebelumnya. Regenerasi justru menjadi jaminan bahwa perjuangan tidak berhenti ketika sebuah generasi meninggalkan panggung.
Politik yang Mewariskan Harapan
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah partai bukan hanya berapa banyak kursi yang berhasil diperoleh atau seberapa besar kekuasaan yang pernah diraih.
Ada ukuran yang jauh lebih penting: apa yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Jika sebuah partai mampu meninggalkan kader-kader yang berintegritas, berkapasitas, dan memiliki keberpihakan kepada masyarakat, maka sesungguhnya partai tersebut telah menjalankan bagian penting dari amanah sejarahnya.
Sebaliknya, jika regenerasi hanya menjadi slogan tanpa ruang yang nyata, maka sejarah panjang dapat berubah menjadi sekadar catatan masa lalu.
Karena itu, Golkar harus terus bergerak.
Bukan meninggalkan sejarah, tetapi belajar dari sejarah.
Bukan menutup pintu bagi generasi baru, tetapi membuka ruang seluas-luasnya bagi mereka yang memiliki kapasitas dan kemauan untuk berjuang.
Dan bagi pemuda Sumenep, kesempatan itu harus dijawab dengan kerja keras, integritas, keberanian, serta kesediaan untuk terus belajar.
Sebab masa depan tidak pernah datang dengan sendirinya.
Masa depan dipersiapkan.
Hari ini.
Di ruang-ruang kaderisasi. Di tengah masyarakat. Di dalam organisasi. Di dalam keberanian untuk menyampaikan gagasan. Dan terutama, di dalam kesediaan untuk mengubah politik dari sekadar perebutan kekuasaan menjadi jalan pengabdian.
Dari ujung timur Madura, suara itu harus terus disuarakan.
Bahwa pemuda tidak meminta karpet merah.
Pemuda hanya meminta kesempatan untuk belajar, dipercaya, bekerja, dan pada waktunya memimpin.
Sebab amanah terbesar sebuah generasi bukanlah mempertahankan seluruh yang telah dimilikinya, melainkan memastikan generasi setelahnya memiliki ruang untuk membangun sesuatu yang lebih baik.
Itulah amanah yang belum tuntas.
Dan itulah tugas yang harus mulai dikerjakan hari ini.*
*Ditulis untuk memenuhi salah satu persyaratan mengikuti kegiatan DIKLATDA AMPG Provinsi Jawa Timur.
- Penulis: Ach Firdaus Asyik
- Editor: En


Saat ini belum ada komentar